TUGAS
BAHASA INDONESIA 2
TULISAN
KE-1
PENALARAN
ILMIAH,BERPIKIR DEDUKTIF,BERPIKIR INDUKTIF
TRI
WIJAYANTO
3EB26
28213970
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2015
PENALARAN
ILMIAH (BAB 1)
Pengertian penalaran adalah
proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang
menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang
sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan
sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan
sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang
disebut menalar.
Cirri-ciri penalaran
1. Adanya
suatu pola pikir yang secara luas di sebut logika.
2. Sifat
analitik dari proses berfikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu
kegiatan berfikir
berdasarkan langkah – langkah tertentu.
3. Menghasilakan kesimpulan berupa
pengetahuan,keputusan atau sikap yang baru.
4. Premis
berupa pengalaman atau pengetahuan, bahkan teori yang telah di peroleh.
Proposisi
Proposisi adalah
pernyataan tentang hubungan yang terdapat di antara subjek dan predikat. Dengan
kata lain, proposisi adalah pernyataan yang lengkap dalam bentuk
subjek-predikat atau term-term yang membentuk kalimat. Kaliimat Tanya, kalimat
perintah, kalimat harapan, dan kalimat inversi tidak dapat disebut proposisi.
Hanya kalimat berita yang netral yang dapat disebut proposisi. Tetapi
kalimat-kalimat itu dapat dijadikan proposisi apabila diubah bentuknya menjadi
kalimat berita yang netral.
Jenis-Jenis
Proposisi
Proposisi dapat dipandang dari 4 kriteria, yaitu
berdasarkan :
1. Berdasarkan
Bentuk
Berdasarkan bentuk dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
Tunggal adalah proposisi yang terdiri dari satu
subjek dan satu predikat atau hanya mengandung satu pernyataan.
Contoh :
Semua petani harus bekerja keras.
Setiap pemuda adalah calon pemimpin
Majemuk atau jamak adalah proposisi yang terdiri
dari satu subjek dan lebih dari satu predikat.
Contoh :
Semua petani harus bekerja keras dan hemat.
2.Berdasarkan
Sifat
Berdasarkan sifat, proporsisi dapat dibagi ke dalam
2 jenis, yaitu:
Kategorial adalah proposisi yang hubungan antara
subjek dan predikatnya tidak membutuhkan / memerlukan syarat apapun.
Contoh:
Semua kursi di ruangan ini pasti berwarna coklat.
Semua daun pasti berwarna hijau.
Kondisional adalah proposisi yang membutuhkan syarat
tertentu di dalam hubungan subjek dan predikatnya. Proposisi dapat dibedakan ke
dalam 2 jenis, yaitu: proposisi kondisional hipotesis dan disjungtif.
Contoh proposisi kondisional : Jika hari mendung maka
akan turun hujan
Contoh proposisi kondisional hipotesis : Jika harga
BBM turun maka rakyat akan bergembira.
Contoh proposisi kondisional disjungtif : Christiano
ronaldo pemain bola atau bintang iklan.
Definisi
inferensi
Inferensi adalah
tindakan atau proses yang berasal kesimpulan logis dari premis-premis yang
diketahui atau dianggap benar. Kesimpulan yang ditarik juga disebut sebagai
idiomatik. Hukum valid inference dipelajari dalam bidang logika. Inferensi
manusia (yaitu bagaimana manusia menarik kesimpulan).
Jenis-jenis Inferensia
1.Inferensi Langsung : Inferensi
yang kesimpulannya ditarik dari hanya satu premis (proposisi yang digunakan
untuk penarikan kesimpulan). Konklusi yang ditarik tidak boleh lebih luas dari
premisnya.
Contoh Inferensia Langsung: Pohon yang di tanam pak
Budi setahun lalu hidup.
(Dari premis tersebut
dapat kita lansung menari kesimpulan (inferensi) bahwa: pohon yang ditanam pak
budi setahun yang lalu tidak mati).
2 Inferensi Tak
Langsung : Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari dua atau lebih premis.
Proses akal budi membentuk sebuah proposisi baru atas dasar penggabungan
proposisi-preposisi lama.
Contoh Inferensi Tak
Langsung :
A : Saya melihat ke
dalam kamar itu.
B : Plafonnya sangat
tinggi.
Wujud
Evidensi
Unsur yang paling
penting dalam suatu tulisan argumentatif adalah evidensi. Pada hakikatnya
evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau
autoritas, dan sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan suatu
kebenaran. Fakta dalam kedudukan sebagai evidensi tidak boleh dicampur-adukkan
dengan apa yang dikenal dengan pernyataan dan penegasan. Pernyataan tidak
berpengaruh apa-apa pada evidensi, ia hanya sekedar menegaskan apakah suatu
fakta itu benar atau tidak. Dalam wujud yang paling rendah evidensi itu
berbentuk data atau informasi. Yang dimaksud dengan data atau informasi adalah
bahan keterangan yang diperoleh dari suatu sumber tertentu.
Cara
Menguji Data
a. Observasi (metode
pengamatan langsung) : metode pengumpulan data dengan mengamati secara langsung
di lapangan. Mengamati bukan hanya melihat, melainkan juga merekam, menghitung,
mengukur, dan mencatat kejadian-kejadian yang ada.
b. Kesaksian :
Keharusan menguji data dan informasi, tidak selalu harus dilakukan dengan
observasi. Kadang-kadang sangat sulit untuk mengharuskan seseorang mengadakan
observasi atas obyek yang akan dibicarakan. Kesulitan itu terjadi karena waktu,
tempat, dan biaya yang harus dikeluarkan. Untuk mengatasi hal itu penulis atau
pengarang dapat melakukan pengujian dengan meminta kesaksian atau keterangan
dari orang lain, yang tidak mengalami sendiri atau menyelidiki sendiri
persoalan itu.
c. Autoritas : Cara
ketiga yang dapat dipergunakan untuk menguji fakta dalam usaha menyusun
evidensi adalah meminta pendapat dari suatu autoritas, yakni pendapat dari
seorang ahli, atau mereka yang telah menyelidiki fakta-fakta itu dengan cermat,
memperhatikan semua kesaksian, menilai semua fakta kemudian memberikan pendapat
mereka sesuai dengan keahlian mereka dalam bidang itu.
Cara Menilai Autoritas
:
a. Tidak Mengandung
Prasangka : Dasar pertama yang perlu diketahui oleh penulis adalah bahwa
pendapat autoritas sama sekali tidak boleh mengandung prasangka. Yang tidak
mengandung prasangka artinya pendapat itu disusun berdasarkan hasil penelitian
yang dilakukan oleh ahli itu sendiri, atau didasarkan pada hasil-hasil
eksperimental yang dilakukannya. Pengertian tidak mengandung prasangka juga
mencakup hal lain, yaitu bahwa autoritas itu tidak boleh memperoleh keuntungan
pribadi dari data-data eksperimentalnya.
b. Pengalaman dan
Pendidikan Autoritas : Dasar kedua yang harus diperhitungkan penulis untuk
menilai pendapat suatu autoritas adalah menyangkut pengalaman dan pendidikan
autoritas. Pendidikan yang diperolehnya harus dikembangkan lebih lanjut dalam
kegiatan-kegiatan sebagai seorang ahli yang diperoleh melalui pendidikannya
tadi. Walaupun jaman kita ini sudah begitu condong atau cenderung dengan
berbagai macam spesifikasi, namun kita tidak boleh mengabaikan keahlian
seseorang dalam beberapa macam bidang tertentu.
c.Kemashuran dan
Prestise : Faktor ketiga yang harus diperhatikan oleh penulis untuk menilai
autoritas adalah meneliti apakah pernyataan atau pendapat yang akan dikutip
sebagai autoritas itu hanya sekedar bersembunyi di balik kemashuran dan prestise
pribadi di bidang lain.
d.Koherensi dengan
Kemajuan : Hal keempat yang perlu diperhatikan penulis argumentasi adalah
apakah pendapat yang diberikan autoritas itu sejalan dengan perkembangan dan
kemajuan jaman, atau koheren dengan pendapat atau sikap terakhir dalam bidang
itu. untuk memberi evaluasi yang tepat terhadap autoritas yang dikutip,
pengarang harus menyebut nama autoritas, gelar, kedudukatif, dan sumber khusus
tempat kutipan itu dijumpai. Bila mungkin penulis harus mengutip
setepat-tepatnya kata-kata atau kalimat autoritas tersebut. Untuk
memperlihatkan bahwa penulis sungguh-sungguh siap dengan persoalan yang tengah
diargumentasikan, maka sebaiknya seluruh argumentasi itu jangan didasarkan
hanya pada satu autoritas.
Berpikir
deduktif (BAB 2)
Konsep
Berpikir Deduktif
Berikut ini beberapa
pendapat mengenai pengertian deduktif :
1) Menurut Jujun S
Suriasumantri
Deduksi adalah cara
berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang
bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan
pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah
pernyataan dan sebuah kesimpulan.
2) Menurut Wikipedia
Metode berpikir
deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih
dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
3) Menurut Diktat
Universitas Sumatera Utara
Deduksi merupakan
proses pengambilan kesimpulan sebagai akibat dari alasan-alasan yang diajukan
berdasarkan hasil analisis data.
4) Menurut Santoso
Penalaran deduktif
merupakan prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya
telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau
pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.
Konsep
Bernalar Dalam Karangan
Penalaran deduktif
merupakan penalaran yang beralur dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum
menuju pada penyimpulan yang bersifat khusus. Pada penalaran deduktif
menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam
bagian-bagiannya yang khusus.
Metode ini diawali dari
pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan
operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu
harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya
dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif
tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.
Silogisme
Silogisme adalah suatu
proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua
proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).
Jenis-jenis Silogisme :
1.Silogisme Kategorial
: Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan
kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang
kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi
predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang
menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh Silogisme
Kategorial :
Semua tumbuhan
membutuhkan air. (Premis Mayor/ Premis Umum)
Akasia adalah tumbuhan
(Premis Minor / Premis Khusus).
Akasia membutuhkan air
(Konklusi / Kesimpulan)
3. Silogisme Hipotesis
: Silogisme hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi
hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik
Contoh Silogisme
Hipotetik :
Jika hujan saya naik
becak.(mayor)
Sekarang hujan.(minor)
Saya naik becak
(konklusi / kesimpulan)
3.Silogisme Alternatif
: Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa
proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya
membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif
yang lain.
Contoh Silogisme
Alternatif :
Nenek Sumi berada di
Bandung atau Bogor.
Nenek Sumi berada di
Bandung.
Jadi, Nenek Sumi tidak
berada di Bogor.
Berpikir
induktif (BAB 3)
Konsep
Berpikir Induktif
Induksi adalah cara
mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk
menentukan hukum yang umum. (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka
Sinar Harapan. 2005).
Berpikir induktif
adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus
ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi
fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode
berpikir induktif.
Konsep
Bernalar Dalam Karangan
Penalaran secara
induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang
lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan
pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri
Pustaka Sinar Harapan. 2005).
Ada 3 macam penalaran
Induktif :
1. Generalisasi
Generalisasi merupakan penarikan kesimpulan
umum dari pernyataan atau data-data yang Ada.
Generalisai Dibagi menjadi 2 :
a. Generalisasi Sempurna / Tanpa loncatan induktif :
Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.
Contoh
Generalisasi Sempurna / tanpa loncatan induktif :
-
Sensus Penduduk.
- Jika
dipanaskan, besi memuai.
Jika
dipanaskan, baja memuai.
Jika
dipanaskan, tembaga memuai.
Jadi, jika
dipanaskan semua logam akan memuai.
b. Generalisasi Tidak Sempurna / Dengan loncatan
induktif : Fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.
Contoh Generalisasi Tidak Sempurna / dengan loncatan
induktif :
Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia
bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan
bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.
Hipotesa
dan Teori
Hipotese (hypo“di
bawah“, tithenai“menempatkan“) adalah semacam teori atau kesimpulan yang
diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta-fakta tertentu sebagai penentu
dalam peneliti fakta-fakta tertentu sebagai penuntun dalam meneliti fakta-fakta
lain secara lebih lanjut. Sebaliknya teori sebenarnya merupakan hipotese yang
secara relatif lebih kuat sifatnya bila dibandingkan dengan hipotese.
Contoh Hipotesis :
Tanzi & Davoodi
(1998) membuktikan bahwa dampak korupsi pada pertumbuhan ekonomi dapat
dijelaskan melalui empat hipotesis (semua dalam kondisi ceteris paribus) :
Hipotesis : tingginya
tingkat korupsi memiliki hubungan dengan tingginya investasi publik. Politisi
yang korup akan meningkatkan anggaran untuk investasi publik. Sayangnya mereka
melakukan itu bukan untuk memenuhi kepentingan publik, melainkan demi mencari
kesempatan mengambil keuntungan dari proyek-proyek investasi tersebut. Oleh
karena itu, walau dapat meningkatkan investasi publik, korupsi.
2.
Analogi
Analogi dalam ilmu
bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya
bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana
dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada. Analogi
dilakukan karena antara sesuatu yang diabandingkan dengan pembandingnya
memiliki kesamaan fungsi atau peran. Melalui analogi, seseorang dapat
menerangkan sesuatu yang abstrak atau rumit secara konkrit dan lebih mudah
dicerna. Analogi yang dimaksud adalah anlogi induktif atau analogi logis.
Contoh analogi :
Untuk menjadi seorang
pemain bola yang professional atau berprestasi dibutuhkan latihan yang rajin
dan ulet. Begitu juga dengan seorang doktor untuk dapat menjadi doktor yang
professional dibutuhkan pembelajaran atau penelitian yang rajin yang rajin dan
ulet. Oleh karena itu untuk menjadi seorang pemain bola maupun seorang doktor
diperlukan latihan atau pembelajaran.
Jenis-jenis Analogi:
1. Analogi induktif :
analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian
ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada
fenomena kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat
untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan
yang terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.
Contoh analogi induktif
:
Tim Uber Indonesia
mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka tim Thomas Indonesia
akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.
2. Analogi deklaratif :
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu
yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara
ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima
apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai.
contoh analogi
deklaratif :
deklaratif untuk
penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara
dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang
benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.
3. Hubungan kausal
Hubungan kausal
(kausalitas) merupakan perinsip sebab-akibat yang sudah pasti antara segala
kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta
kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang
mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan
sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu
manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Macam-macam hubungan
kausal :
1. Sebab- akibat.
Contoh: Penebangan liar
dihutan mengakibatkan tanah longsor.
2. Akibat – Sebab.
Contoh: Andri juara
kelas disebabkan dia rajin belajar dengan baik.
3. Akibat – Akibat.
Contoh: Toni melihat
kecelakaan dijalanraya, sehingga Toni beranggapan adanya korban kecelakaan.
Induksi
Dalam Metode Eksposisi
Eksposisi adalah salah
satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis
dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya
penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi
uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau
pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi
dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi
ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi
demikian lazim disebut paparan proses.
SUMBER-SUMBER

Tidak ada komentar:
Posting Komentar