Minggu, 15 November 2015

KONSEP MENULIS LAPORAN ILMIAH (BAB 9)

TUGAS BAHASA INDONESIA
TULISAN UNTUK BULAN NOVEMBER
KONSEP MENULIS LAPORAN ILMIAH (BAB 9)


TRI WIJAYANTO
28213970
3EB26

  
KONSEP MENULIS LAPORAN ILMIAH (BAB 9)

Konsep Laporan Ilmiah
Konsep dari laporan ilmiah adalah berkaitan dengan penelitian, fakta, dan objektif dari permasalahan yang dibahas dalam laporan ilmiah. Maka itu laporan ilmiah harus objektif, dan sesuai dengan fakta yang ada, serta disusun secara sistematis.
Penulisan laporan adalah penyampaian pengalaman peneliti dan hasil-hasilnya kepada masyarakat luas sehingga dapat berguna bagi perkembangan ilmu dan pengetahuan.

Pengertian Laporan Ilmiah
Menurut E.Zaenal Arifin,1993 : Laporan Ilmiah adalah laporan yang disusun melalui tahapan berdasarkan teori tertentu dan menggunakan metode ilmiah yang sudah disepakati oleh para ilmuwan
Sedangkan secara umum Laporan ilmiah ialah karya tulis ilmiah yang dibuat oleh seseorang atau sekelompok orang yang berhubungan secara struktural atau kedinasan setelah melaksanakan tugas yang diberikan. Laporan ilmiah dibuat sebagai bukti pertanggungjawaban bawahan/petugas atau tim/panitia kepada atasannya atas pelaksanaan tugas yang diberikan. Laporan ilmiah harus memuat data yang tepat dan benar serta objektif dan sistematis sehingga dapat dijadikan ukuran untuk membuat pertimbangan dan keputusan.

Beberapa hal yang harus diperhatikan mengenai laporan ilmiah, yaitu :
Laporan ilmiah mengemukakan permasalahan yang ditulis secara benar, jelas, terperinci, dan ringkas;
Kegiatan menulis laporan ilmiah merupakan kegiatan (utama) terakhir dari suatu kegiatan ilmiah;
Laporan ilmiah merupakan suatu dokumen tentang kegiatan ilmiah dalam memecahkan masalah Secara jujur, jelas, dan tepat tentang prosedur, alat, dan hasil temuan serta implikasinya;
Laporan ilmiah merupakan media yang baik untuk komunikasi di lingkungan akademisi atau sesama ilmuwan;
Laporan ilmiah dapat digunakan sebagai acuan bagi ilmuwan lain sehingga syarat-syarat tulisan ilmiah berlaku juga untuk laporan ilmiah.

Jenis-jenis laporan ilmiah :

1.Laporan lengkap (monograf) adalah laporan yang berisi proses penelitian secara menyeluruh, dengan mengutarakan semua teknik dan pengalaman penelitian dalam melaksanakan kegiatan penelitian.

2.Artikel ilmiah adalah laporan yang berisi intisari dari laporan lengkap. Penulisannya lebih padat dan disesuaikan dengan jumlah halaman yang disediakan dalam jurnal-jurnal ilmiah.

3.Laporan ringkas (summary report) adalah laporan dari artikel yang sudah pernah diterbitkan yang ditulis ulang dengan menggunakan bentuk dan gaya penulisan yang lebih sederhana; sehingga dapat dipahami oleh masyarakat luas.

4.Laporan untuk administrator dan pembuat keputusan adalah laporan penelitian yang diberikan kepada pemerintah, terutama berkenaan dengan penelitian tindakan.

Ciri-ciri laporan ilmiah :

1. Pembacanya seorang atau sekumpulan orang tertentu. Adakalanya laporan berbentuk buku dan ditujukan kepada pembaca umum. Jika ditujukan kepada umum biasanya laporan berbentuk pamflet atau selebaran.
2. Bentuk laporan yang disajikan atas permintaan atau perintah itu biasanya berupa laporan panjang yang terdiri atas: halaman judul, surat penyerahan, daftar isi, pendahuluan, uraian pokok, dan sering juga lampiran. Laporan pendek biasanya terdiri atas judul pokok dan nomornomor, dengan perlengkapan seperti biasa dalam surat-menyurat formal.

3. Laporan itu bersifat sangat objektif, maksudnya terutama untuk menyajikan fakta.

4. Bahasa dan nadanya formal.

5.Judul, subjudul, dan sub-sub judul, disusun dan diatur dengan perencanaan yang mantik. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, mantik diartikan dengan (1) cara berpikir yang hanya mendasarkan pikiran.

Dari ciri-ciri laporan yang telah disebutkan di atas, dapat ditarik suatu prinsip yang diterapkan pada ciri suatu laporan ilmiah, yaitu :
1)    Ditujukan kepada pembaca tertentu;

2)  Sistematika laporan kadang disesuaikan dengan permintaan pemberi perintah atau pesanan (dalam suatu hibah kompetensi);

3) Bahasanya formal, harus disesuaikan dengan standar Bahasa Indonesia yang disempurnakan;

4) Memerhatikan kaidah-kaidah ilmiah sesuai dengan disiplin keilmuannya;

5) Objektif.

Persyaratan bagi pembuat laporan
Syarat-syarat penulisan laporan di antaranya adalah :
A)    Tepat tujuan;

B)    Sistematis;

C)    Penelitian harus meyakinkan;

D)    Kejelasan menurut kaidah ilmu.

Suatu karya dapat dikatakan ilmiah jika memenuhi syarat sebagai berikut :
1)    Penulisannya berdasarkan hasil penelitian, disertai pemecahannya;

2)    Pembahasan masalah yang dikemukakan harus obyektif sesuai realita/ fakta;

3)    Tulisan harus lengkap dan jelas sesuai dengan kaidah bahasa, Pedoman Umum;

4)    Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD), serta Pedoman Umum Pembentukan Istilah (PUPI);

5)    Tulisan disusun dengan metode tertentu;

6)    Tulisan disusun menurut sistem tertentu;

7)  Bahasanya harus lengkap, terperinci, teratur, ringkas, tepat, dan cermat sehingga tidak terbuka kemungkinan adanya ambiguitas, ketaksaan, maupun kerancuan.

Sistematika atau kerangka Laporan Ilmiah

Bagian awal, terdiri atas :
Halaman judul: judul, maksud, tujuan penulisan, identitas penulis, instansi asal, kota     penyusunan, dan tahun;
Halaman pengesahan (jika perlu);
HaLaman motto/semboyan (jika perlu);
Halaman persembahan (jika perlu);
Prakata;
Daftar isi;
Daftar tabel (jika ada);
Daftar grafik (jika ada);
Daftar gambar (jika ada);
Abstak : uraian singkat tentang isi laporan.

Bagian Isi, terdiri atas:
Bab I Pendahuluan berisi tentang: Latar belakang, Identitas masalah, Pembatasan masalah, Rumusan masalah, Tujuan dan manfaat;
Bab II : Kajian Pustaka;
Bab III : Metode;
Bab IV : Pembahasan;
Bab V : Penutup.

Bagian Akhir, terdiri atas
Daftar Pustaka;
Daftar Lampiran;
Indeks : Daftar istilah.

Langkah-langkah penulisan laporan ilmiah yang harus diperhatikan
Berikut beberapa langkah penulisan laporan ilmiah yang harus Anda perhatikan adalah :
Tuliskan garis besar isi (outline) secara sederhana dan sistematis;
Kembangkan outline tersebut dengan cara memberikan judul, subjudul, bagian, dan subbagian;
Tuliskan hal yang akan diuraikan pada setiap judul, subjudul, bagian, dan subbagian;
Cantumkan pada setiap judul, subjudul, bagian, subbagian beberapa tabel, grafik, gambar, atau analisis statistik yang dapat melengkapi argumentasi dari bahasan;
Penulisan laporan dimulai dengan mengacu pada outline yang sudah dilengkapi dengan tabel, grafik, gambar, atau analisis statistik lain;
Pada awal menulis jangan terlalu memperhatikan gaya bahasa yang digunakan karena penulis harus langsung menuju sasaran untuk menyelesaikan draft pertama dari laporan lengkap;
Gaya bahasa sebaiknya diperbaiki dengan memperhatikan :
(1)   Konsistensi dan kesinambungan materi, (2) Menghilangkan pengulangan makna kalimat agar kalimat menjadi jelas dan tulisan menjadi ringkas, dan (3) Memperhatikan cara penulisan rujukan.

Daftar pustaka



ASPEK PENALARAN DALAM KARANGAN ILMIAH (BAB 6)

TUGAS BAHASA INDONESIA 2
TULISAN UNTUK BULAN NOVEMBER
ASPEK PENALARAN DALAM KARANGAN ILMIAH (BAB 6)





TRI WIJAYANTO
28213970
3EB26

ASPEK PENALARAN DALAM KARANGAN ILMIAH (BAB 6)

Menulis Sebagai Proses Penalaran
Menulis merupakan suatu pengungkapan pikiran yang dituangkan ke dalam bentuk sebuah tulisan. Ide yang dituangkan oleh si penulis dapat berasal dari pengalaman dan pengetahuan atau pun imajinasi dari si penulis.
Penalaran merupakan proses berpikir yang sistematik untuk memperolch kesimpulan berupa pengetahuan.
Menulis merupakan proses bernalar. Dimana pada saat kita ingin menulis sesuatu tulisan baik itu dalam bentuk karangan atau pun yang lainnya, maka kita harus mencari topiknya terlebih dahulu. Dan dalam mencari suatu topik tersebut kita harus berfikir, maka pada saat kita berfikir tanpa kita sadari kita sendiri telah melakukan proses penalaran.
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa menulis sebagai proses penalaran, karena dengan menulis kita malakukan proses berfikir secara sistemmatis (bernalar) untuk menentukan topik dan tema tulisan.

Penalaran Induktif dan Deduktif dalam Karya Ilmiah

Penalaran Induktif dalam Karya Ilmiah
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum. (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005).
Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005).
Contoh penalaran induktif :
Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Babi berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Ikan paus berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.

Ada 3 macam penalaran Induktif :

1.      Generalisasi
Generalisasi merupakan penarikan kesimpulan umum dari pernyataan atau data-data yang ada. Generalisai Dibagi menjadi 2 :

A. Generalisasi Sempurna / Tanpa loncatan induktif : Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.
Contoh Generalisasi Sempurna / tanpa loncatan induktif :
       - Sensus Penduduk.
       - Jika dipanaskan, besi memuai.
         Jika dipanaskan, baja memuai.
         Jika dipanaskan, tembaga memuai.
         Jadi, jika dipanaskan semua logam akan memuai.

B. Generalisasi Tidak Sempurna / Dengan loncatan induktif : Fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.
Contoh Generalisasi Tidak Sempurna / dengan loncatan induktif :
Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.




2.      Analogi
Analogi adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat esensial yang bersamaan.

Contoh analogi :
Untuk menjadi seorang pemain bola yang professional atau berprestasi dibutuhkan latihan yang rajin dan ulet. Begitu juga dengan seorang doktor untuk dapat menjadi doktor yang professional dibutuhkan pembelajaran atau penelitian yang rajin yang rajin dan ulet. Oleh karena itu untuk menjadi seorang pemain bola maupun seorang doktor diperlukan latihan atau pembelajaran.

3. Hubungan kausal
Hubungan kausal (kausalitas) merupakan prinsip sebab-akibat yang sudah pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.

Macam-macam hubungan kausal :
1. Sebab- akibat.
Contoh: Penebangan liar dihutan mengakibatkan tanah longsor.

2. Akibat – Sebab.
Contoh: Andri juara kelas disebabkan dia rajin belajar dengan baik.

3. Akibat – Akibat.
Contoh: Toni melihat kecelakaan dijalanraya, sehingga Toni beranggapan adanya korban kecelakaan.

Penalaran Deduktif dalam Karya Ilmiah
Penalaran deduktif merupakan penalaran yang beralur dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum menuju pada penyimpulan yang bersifat khusus. Pada penalaran deduktif menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata kunci untuk memahami suatu gejala.

Salah satu macam penalaran induktif, yaitu adalah silogisme :
Silogisme
Silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).

Jenis-jenis Silogisme :

1.    Silogisme Kategorial : Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle term).
Contoh Silogisme Kategorial :
Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor/ Premis Umum)
Akasia adalah tumbuhan (Premis Minor / Premis Khusus).
Akasia membutuhkan air (Konklusi / Kesimpulan)

2.    Silogisme Hipotesis : Silogisme hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik
Contoh Silogisme Hipotetik :
Jika hujan saya naik becak.(mayor)
Sekarang hujan.(minor)
Saya naik becak (konklusi / kesimpulan)

3.    Silogisme Alternatif : Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh Silogisme Alternatif :
Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Nenek Sumi berada di Bandung.
Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.

Isi Karangan
Pada bagian isi suatu karangan, penulis menyusun gagasan-gagasan karangan menjadi beberapa bagian atau bab dengan memperhatikan ketersambungan antar paragraf dan gaya bahasa yang baik untuk dibaca oleh pembaca. Jika gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa yang baik dan benar, maka isi dari suatu karangan dapat tersampaikan  maksud dan tujuannya kepada para pembaca.
Sehingga tidak terjadi salah penalaran dalam penyampaian maksud dan tujuan dari isi karangan. Salah nalar (reasioning atau logical fallacy) adalah kekeliruan dalam proses berpikir karena keliru menafsirkan atau menarik kesimpulan.

Bagian-bagian isi diantaranya adalah : Judul bab atau topic isi bahasan, Uraian singkat isi pokok bahasan, Penjelasan tujuan bab, Uraian isi pelajaran, Penjelasan teori, Sajian contoh, Ringkasan isi bab, Soal latihan, Kunci jawaban soal latihan.

Fakta sebagai unsur dasar penalaran karangan
Agar dapat menalar dengan tepat, perlu kita memiliki pengetahuan tentang fakta yang berhubungan. Jumlah fakta tak terbatas, sifatnya pun beraneka ragam. Oleh sebab itu, sebagai unsur dasar dalam penalaran ilmiah, kita harus mengetahui apa pengertian dari fakta.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fakta memiliki definisi sebagai hal (keadaan atau peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu yang benar-benar ada atau terjadi. Selain itu, fakta juga merupakan pengamatan yang telah diverifikasi secara empiris (sesuai dengan bukti atau konsekuensi yang teramati oleh indera). Fakta bila dikumpulkan secara sistematis dengan beberapa sistem serta dilakukan secara sekuensial maka fakta tersebut mampu melahirkan sebuah ilmu. Sebagai kunci bahwa fakta tidak akan memiliki arti apa-apa tanpa sebuah teori dan fakta secara empiris dapat melahirkan sebuah teori baru.
Untuk memahami hubungan antara fakta-fakta yang sangat banyak itu, kita perlu mengenali fakta-fakta itu secara sendiri-sendiri. Ini berarti bahwa kita harus mengetahui ciri-cirinya dengan baik. Dengan begitu, kita dapat mengenali hubungan di antara fakta-fakta tersebut dengan melakukan penelitian. Selain itu, kita dapat menggolong-golongkan sejumlah fakta ke dalam bagian-bagian dengan jumlah anggota yang sama banyaknya. Proses seperti itu disebut pembagian, namun pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi dan disebut klasifikasi.

Kesimpulannya : fakta sebagai unsur dasar dalam penalaran karangan karena dalam membuat suatu karangan baik itu karangan ilmiah atau karangan non ilmiah harus didasari oleh fakta, dan penulis harus mengerti serta memahami fakta tersebut, sehingga dapat di kembangkan dan disusun menjadi sebuah karangan.


Daftar pustaka




Senin, 19 Oktober 2015

Karangan Ilmiah Dan Non Ilmiah, Serta Metode Ilmiah



Karangan Ilmiah Dan Non Ilmiah, Serta Metode Ilmiah

                    


Nama : Tri wijayanto
NPM  : 28213970
Kelas  : 3EB26
UNIVERSITAS GUNADARMA


Karangan Ilmiah
Karangan adalah bentuk tulisan yang mengukapkan pikiran dan perasaan pengarang dalm satu kesatuan tema yang utuh. Atau rangkaian hasil pemikiran atau ungkapan perasaan ke dalam bentuk tulisan yang teratur..
Karangan Ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum yang ditulis menurut metodiologi dan penulisan yang benar.
Berdasarkan tujuannnya, jenis karangan dibagi dalam jenis-jenis berikut ini:
Karangan narasi: Karangan narasi adalah karangan yang menceritakan suatu peristiwa atau kejadian dengan tujuan agar pembaca seolah-olah mengalami kejadian yang diceritakan itu.
Karangan deskripsi: Karangan deskripsi adalah karangan yang menggambarkan sebuah objek dengan tujuan agar pembaca merasa seolah-olah melihat sendiri objek yang digambarkan itu.
Karangan eksposisi: Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan sejumlah pengetahuan atau informasi dan pengetahuan dengan sejelas-jelasnya. Dikemukakan data dan fakta untuk memperjelas pemaparan.
Karangan argumentasi: Karangan argumentasi adalah karangan yang bertujuan untuk membuktikan suatu kebenaran sehingga pembaca meyakini kebenaran itu. Pembuktian memerlukan data dan fakta yang meyakinkan.
Karangan persuasi: Karangan persuasi adalah karangan yang bertujuan untuk mempengaruhi pembaca. Karangan ini pun memerlukan data sebagai penunjang.






Macam – macam Karangan Ilmiah
Ada berbagai macam karangan ilmiah, berikut diantaranya :
A.  Laporan penelitian : Laporan yang ditulis berdasarkan penelitian. Misalnya laporan penelitian yang didanai oleh Fakultas dan Universitas, laporan ekskavasi arkeologis yang dibiayai oleh Departemen Kebudayaan, dan seterusnya.
B.  Skripsi :  Tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik sarjana strata satu (Si).
C.   Tesis : Tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik strata dua (S2), yaitu Master.
D.    Disertasi : Tulisan ilmiah untuk mendapat gelar akademik strata tiga (S3), yaitu Doktor.
E.    Surat pembaca : Surat yang berisi kritik dan tanggapan terhadap isi suatu tulisan ilmiah.
F.    Laporan kasus : Tulisan mengenai kasus-kasus yang ada yang dilandasi dengan teori.
Karya nonilmiah bersifat, antara lain :
1. Emotif : merupakan kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi;
2. Persuasif : merupakan penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative;
3. Deskriptif : merupakan pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif, dan Jika kritik adakalanya tanpa dukungan bukti.






Tujuan karya ilmiah, antara lain :
Sebagai wahana melatih mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.
Menumbuhkan etos ilmiah di kalangan mahasiswa, sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi penghasil (produsen) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, terutama setelah penyelesaian studinya.
Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transformasi pengetahuan antara sekolah dengan masyarakat, atau orang-orang yang berminat membacanya.
Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari jurusannya.
Melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian.
 Manfaat penyusunan karya ilmiah bagi penulis adalah berikut:
·         Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif;
·         Melatih untuk menggabungkan hasil bacaan dari berbagai sumber;
·         Mengenalkan dengan kegiatan kepustakaan;
·         Meningkatkan pengorganisasian fakta/data secara jelas dan sistematis;
·         Memperoleh kepuasan intelektual;
·         Memperluas cakrawala ilmu pengetahuan;
·         Sebagai bahan acuan/penelitian pendahuluan untuk penelitian selanjutnya



Ciri-ciri Karangan Ilmiah, antara lain:
1. Kejelasan : Artinya semua yang dikemukakan tidak samar-samar, pengungkapan maksudnya tepat dan jernih.
2. Kelogisan : Artinya keterangan yang dikemukakan masuk akal.
3. Kelugasan : Artinya pembicaraan langsung pada hal yang pokok.
4. Keobjektifan : Artinya semua keterangan benar-benar aktual, apa adanya.
5. Keseksamaan : Artinya berusaha untuk menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan betapapun kecilnya.
6 Kesistematisan : Artinya semua yang dikemukakan disusun menurut urutan yang memperlihatkan kesinambungan.
7.  Ketuntasan : Artinya segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap lengkapnya.


iri-ciri Karangan Nonilmiah

Karangan non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).

Ciri-ciri Karya Tulis Non-Ilmiah:
             Ditulis berdasarkan fakta pribadi.
             Fakta yang disimpulkan subyektif.
             Gaya bahasa konotatif dan populer.
             Tidak memuat hipotesis.
             Penyajian dibarengi dengan sejarah.
             Bersifat imajinatif.
             Situasi didramatisir.
             Bersifat persuasif.
             Tanpa dukungan bukti.
Ciri-ciri Karangan Ilmiah Populer 
Karangan Ilmiah Populer atau Semi Ilmiah adalah karangan ilmiah pengetahuan yang menyajikan fakta pribadi dan ditulis menurut metodiologi penulisan yang benar. Jenis karangan semi ilmiah yaitu artikel, editorial, opini, tips, reportase, dan resensi buku. Resensi buku adalah bentuk konbinasi antara uraian, ringkasan, dan kritik objektif terhadap sebuah buku.
Ciri-ciri karangan semi ilmiah atau ilmiah popular, yaitu :
             Ditulis berdasarkan fakta pribadi;
             Fakta yang disimpulkan subjektif;
             Gaya bahasa formal dan popular;
             Mementingkan diri penulis;
             Melebih-lebihkan sesuatu;
             Usulan-usulan bersifat argumentative; dan Bersifat persuasive.




Metode Ilmiah
Pengertian Metode Ilmiah
Metode merupakan prosedur atau cara seseorang dalam melakukan suatu kegiatan untuk mempermudah memecahkan masalah secara teratur, sistematis, dan terkontrol. Ilmiah adalah sesuatu keilmuan untuk mendapatkan pengetahuan secara alami berdasarkan bukti fisis. Jadi, bila kita menjabarkan lebih luas dari metode ilmiah adalah suatu proses atau cara keilmuan dalam melakukan proses ilmiah (science project) untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis.
Dengan kata lain, metode ilmiah adalah garis-garis pemikiran yang bersifat konseptual (memiliki gagasan orisinil), dan prosedural (memulai dengan observasi dan mengakhiri dengan pertanyaan-pertanyaan umun)
Tujuan pembelajaran metode penulisan ilmiah
Tujuan adalah salah satu bentuk harapan untuk dimasa yang akan datang. Maka dalam penulisan ilmiah kita tidak bisa asal tulis atau tidak mengindahkan kaidah-kaidah dalam penulisan ilmiah. Dalam penulisan ini kita harus mempunyai metodenya agar tulisan kita dapat dipahami dan dimengerti oleh si pembaca dikemudian hari. Ini adalah beberapa tujuan kita mempelajari metode ilmiah :
1. Meningkatkan keterampilan dalam mengorganisasikan dan menyajikan fakta secara sistematis;
2. Meningkatkan keterampilan dalam menulis berbagai karya tulis;
3. Meningkatkan pengetahuan tentang mekanisme penulisan karangan ilmiah.
Sikap Ilmiah
Menurut Baharuddin (1982:34) mengemukakan bahwa :”Sikap ilmiah pada dasarnya adalah sikap yang diperlihatkan oleh para Ilmuwan saat mereka melakukan kegiatan sebagai seorang ilmuwan. Dengan perkataan lain kecendrungan individu untuk bertindak atau berprilaku dalam memecahkan suatu masalah secara sistematis melalui langkah-langkah ilmiah”.
Beberapa sikap ilmiah dikemukakan oleh Mukayat Brotowidjoyo (1985 :31-34) yang biasa dilakukan para ahli dalam menyelesaikan masalah berdasarkan metode ilmiah, antara lain :
1. Rasa Ingin Tahu : Rasa ingin tahu merupakan awal atau dasar untuk melakukan penelitian-penelitian demi mendapatka sesuatu yang baru.
2. Jujur : Dalam melakukan penelitian, seorangsainstis harus bersikap jujur, artinya selalu menerima kenyataan dari hasil penelitiannya dan tidak mengada-ada serta tidak boleh mengubah data hasil penelitiannya.
3. Tekun : Tekun berarti tidak mudah putus asa. Dalam melakukan penelitian terhadap suatu masalah tidak boleh mudah putus asa. Seringkali dalam membuktikan suatu masalah, penelitian harus diulang-ulang untuk mendapatkan data yang akurat. Dengan data yang akurat maka kesimpulan yang didapat juga lebih akurat.
4.  Teliti : Teliti artinya bertindak hati-hati, tidak ceroboh. Dengan tindakan yang teliti dalam melakukan penelitian, akan mengurangi kesalahan-kesalahan sehingga menghasilkan data yang baik.
5.  Objektif : Objektif artinya sesuai dengan fakta yang ada. Artinya, hasil penelitian tidak boleh dipengaruhi perasaan pribadi. Semua yang dikemukakan harus berdasarkan fakta yang diperoleh. Sikap objektif didukung dengan sikap terbuka artinya mau menerima pendapat yang benar dari orang lain.
6.  Terbuka Menerima Pendapat Yang Benar : Artinya bahwa kita tidak boleh mengklaim diri kita yang paling benar atau paling hebat. Kalau ada pendapat lain yang lebih benar/tepat, kita harus menerimanya.
Selain sikap ilmiah yang telah disebutkan diatas, sikap ilmiah yang harus dimiliki oleh seorang peneliti atau penulis karangan ilmiah adalah : kritis terhadap sesuatu hal, dan sikap menjangkau ke depan.



Langkah-langkah penulisan ilmiah
1. Timbangan pustaka (menilai hasil-hasil penelitian yang telah dikerjakan oleh orang lain untuk dibahas dan disimpulkan);
2.  Menentukan masalah;
3.  Memecahkan masalah;
4.  Membentuk hipotesis (ide, pendapat atau dugaan sementara);
5.  Menguji hipotesis yang diajukan dengan melakukan eksperimen (percobaan);
6.  Menyimpulkan hasil eksperimen, Jika hasil eksperimen tidak sesuai dengan hipotesis :
·     Jangan ubah hipotesis;
·     Jangan abaikan hasil eksperimen;
·     Berikan alasan yang masuk akal mengapa tidak sesuai;
·    Berikan cara-cara yang mungkin dilakukan selanjutnya untuk menemukan penyebab   ketidaksesuaian;
·     Bila cukup waktu lakukan eksperimen sekali lagi atau susun ulang e/ksperimen.
7.   Menerbitkan hasil penelitian.
Kegunaan metode ilmiah
Beberapa kegunaan metode ilmiah dalam kehidupan manusia antara lain :
1.   Membantu memecahkan permasalahan dengan penalaran dan pembuktian yang memuaskan;
2.   Menguji hasil penelitian orang lain sehingga diperoleh kebenaran yang objektif;
3.   Memecahkan atau menemukan jawaban rahasia alam yang sebelumnya masih teka teki.

Kriteria metode ilmiah
1. Berdasarkan Fakta : Keterangan-keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan yang dianalisa haruslah berdasarkan fakta-fakta yang nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasar-kan pada daya khayal, kira-kira, legenda-legenda atau kegiatan sejenis.
2. Bebas dari Prasangka : Metode ilmiah harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan subjektif. Menggunakan suatu fakta haruslah dengan alasan dan bukti yang lengkap dan dengan pembuktian yang objektif. Apabila hasil dari suatu penelitian, misalnya menunjukan bahwa ada ketidaksesuaian dengan hipotesis, maka kesimpulan yang diambil haruslah merujuk kepada hasil tersebut, meskipun katakanlah, hal tersebut tidak disukai oleh pihak pemberi dana.
3. Menggunakan Prinsip Analisa : Dalam memahami serta memberi arti terhadap fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip analisa. Semua masalah harus dicari sebab-musabab serta pemecahannya dengan menggunakan analisa yang logis, Fakta yang mendukung tidaklah dibiarkan sebagaimana adanya atau hanya dibuat deskripsinya saja. Tetapi semua kejadian harus dicari sebab-akibat dengan menggunakan analisa yang tajam.
4. Menggunakan Hipotesa : Dalam metode ilmiah, peneliti harus dituntun dalam proses berpikir dengan menggunakan analisa. Hipotesa harus ada untuk mengonggokkan persoalan serta memadu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran dengan tepat. Hipotesa merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran peneliti.
5. Menggunakan Ukuran Obyektif : Seorang peneliti harus selalu bersikap objektif dalam mencari kebenaran.
6.  Menggunakan Teknik Kuantifikasi : Dalam memperlakukan data ukuran kuantitatif yang lazim harus digunakan, kecuali untuk artibut-artibut yang tidak dapat dikuantifikasikan Ukuran-ukuran seperti ton, mm, per detik, ohm, kilogram, dan sebagainya harus selalu digunakan Jauhi ukuran ukuran seperti: sejauh mata memandang, sehitam aspal, sejauh sebatang rokok, dan sebagai¬nya. Kuantifikasi yang termudah adalah dengan menggunakan ukuran nominal, ranking dan rating.

Sumber