TUGAS
BAHASA INDONESIA 2
TULISAN
UNTUK BULAN NOVEMBER
ASPEK
PENALARAN DALAM KARANGAN ILMIAH (BAB 6)
TRI WIJAYANTO
28213970
3EB26
ASPEK PENALARAN DALAM KARANGAN ILMIAH (BAB 6)
Menulis
Sebagai Proses Penalaran
Menulis merupakan suatu pengungkapan pikiran yang
dituangkan ke dalam bentuk sebuah tulisan. Ide yang dituangkan oleh si penulis
dapat berasal dari pengalaman dan pengetahuan atau pun imajinasi dari si
penulis.
Penalaran merupakan proses berpikir yang sistematik untuk
memperolch kesimpulan berupa pengetahuan.
Menulis merupakan proses bernalar. Dimana pada saat kita
ingin menulis sesuatu tulisan baik itu dalam bentuk karangan atau pun yang
lainnya, maka kita harus mencari topiknya terlebih dahulu. Dan dalam mencari
suatu topik tersebut kita harus berfikir, maka pada saat kita berfikir tanpa
kita sadari kita sendiri telah melakukan proses penalaran.
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita ambil kesimpulan
bahwa menulis sebagai proses penalaran, karena dengan menulis kita malakukan
proses berfikir secara sistemmatis (bernalar) untuk menentukan topik dan tema
tulisan.
Penalaran
Induktif dan Deduktif dalam Karya Ilmiah
Penalaran Induktif dalam Karya Ilmiah
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak
dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum. (filsafat
ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005).
Berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam
berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan
difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti.
Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif.
Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan
yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi
yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48
Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005).
Contoh penalaran induktif :
Harimau berdaun telinga berkembang biak dengan
melahirkan. Babi berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Ikan paus
berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang
biak dengan melahirkan.
Ada 3 macam penalaran Induktif :
1.
Generalisasi
Generalisasi merupakan penarikan kesimpulan umum dari
pernyataan atau data-data yang ada. Generalisai Dibagi menjadi 2 :
A. Generalisasi Sempurna / Tanpa loncatan induktif :
Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.
Contoh Generalisasi Sempurna / tanpa loncatan induktif :
- Sensus
Penduduk.
- Jika
dipanaskan, besi memuai.
Jika
dipanaskan, baja memuai.
Jika
dipanaskan, tembaga memuai.
Jadi, jika
dipanaskan semua logam akan memuai.
B. Generalisasi Tidak Sempurna / Dengan loncatan induktif
: Fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.
Contoh Generalisasi Tidak Sempurna / dengan loncatan
induktif :
Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa
mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa
bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong.
2.
Analogi
Analogi
adalah proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala
khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat
esensial yang bersamaan.
Contoh analogi :
Untuk menjadi seorang pemain bola yang professional atau
berprestasi dibutuhkan latihan yang rajin dan ulet. Begitu juga dengan seorang
doktor untuk dapat menjadi doktor yang professional dibutuhkan pembelajaran
atau penelitian yang rajin yang rajin dan ulet. Oleh karena itu untuk menjadi
seorang pemain bola maupun seorang doktor diperlukan latihan atau pembelajaran.
3.
Hubungan kausal
Hubungan
kausal (kausalitas) merupakan prinsip sebab-akibat yang sudah pasti antara
segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan
serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal
lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan
tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan
bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi
keraguan apapun.
Macam-macam
hubungan kausal :
1. Sebab- akibat.
Contoh: Penebangan liar dihutan mengakibatkan tanah
longsor.
2. Akibat – Sebab.
Contoh: Andri juara kelas disebabkan dia rajin belajar
dengan baik.
3. Akibat – Akibat.
Contoh: Toni melihat kecelakaan dijalanraya, sehingga
Toni beranggapan adanya korban kecelakaan.
Penalaran Deduktif dalam Karya Ilmiah
Penalaran deduktif merupakan penalaran yang beralur dari
pernyataan-pernyataan yang bersifat umum menuju pada penyimpulan yang bersifat
khusus. Pada penalaran deduktif menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu
untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.
Metode ini diawali dari pebentukan teori, hipotesis,
definisi operasional, instrumen dan operasionalisasi. Dengan kata lain, untuk
memahami suatu gejala terlebih dahulu harus memiliki konsep dan teori tentang
gejala tersebut dan selanjutnya dilakukan penelitian di lapangan. Dengan
demikian konteks penalaran deduktif tersebut, konsep dan teori merupakan kata
kunci untuk memahami suatu gejala.
Salah
satu macam penalaran induktif, yaitu adalah silogisme :
Silogisme
Silogisme
adalah suatu proses penarikan kesimpulan secara deduktif. Silogisme disusun
dari dua proposisi (pernyataan) dan sebuah konklusi (kesimpulan).
Jenis-jenis Silogisme :
1. Silogisme
Kategorial : Silogisme kategorial adalah silogisme yang semua proposisinya
merupakan kategorial. Proposisi yang mendukung silogisme disebut dengan premis
yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis mayor (premis yang termnya menjadi
predikat), dan premis minor ( premis yang termnya menjadi subjek). Yang
menghubungkan di antara kedua premis tersebut adalah term penengah (middle
term).
Contoh Silogisme Kategorial :
Semua tumbuhan membutuhkan air. (Premis Mayor/ Premis
Umum)
Akasia adalah tumbuhan (Premis Minor / Premis Khusus).
Akasia membutuhkan air (Konklusi / Kesimpulan)
2. Silogisme Hipotesis : Silogisme hipotetik
adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan
premis minornya adalah proposisi katagorik
Contoh Silogisme Hipotetik :
Jika hujan saya naik becak.(mayor)
Sekarang hujan.(minor)
Saya naik becak (konklusi / kesimpulan)
3. Silogisme
Alternatif : Silogisme alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis
mayor berupa proposisi alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis
minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak
alternatif yang lain.
Contoh Silogisme Alternatif :
Nenek Sumi berada di Bandung atau Bogor.
Nenek Sumi berada di Bandung.
Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
Isi Karangan
Pada bagian isi suatu karangan, penulis menyusun
gagasan-gagasan karangan menjadi beberapa bagian atau bab dengan memperhatikan
ketersambungan antar paragraf dan gaya bahasa yang baik untuk dibaca oleh
pembaca. Jika gaya bahasa yang digunakan adalah gaya bahasa yang baik dan
benar, maka isi dari suatu karangan dapat tersampaikan maksud dan tujuannya kepada para pembaca.
Sehingga tidak terjadi salah penalaran dalam penyampaian
maksud dan tujuan dari isi karangan. Salah nalar (reasioning atau logical
fallacy) adalah kekeliruan dalam proses berpikir karena keliru menafsirkan atau
menarik kesimpulan.
Bagian-bagian isi diantaranya adalah : Judul bab atau
topic isi bahasan, Uraian singkat isi pokok bahasan, Penjelasan tujuan bab,
Uraian isi pelajaran, Penjelasan teori, Sajian contoh, Ringkasan isi bab, Soal
latihan, Kunci jawaban soal latihan.
Fakta sebagai unsur dasar penalaran karangan
Agar dapat menalar dengan tepat, perlu kita memiliki
pengetahuan tentang fakta yang berhubungan. Jumlah fakta tak terbatas, sifatnya
pun beraneka ragam. Oleh sebab itu, sebagai unsur dasar dalam penalaran ilmiah,
kita harus mengetahui apa pengertian dari fakta.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fakta memiliki
definisi sebagai hal (keadaan atau peristiwa) yang merupakan kenyataan; sesuatu
yang benar-benar ada atau terjadi. Selain itu, fakta juga merupakan pengamatan
yang telah diverifikasi secara empiris (sesuai dengan bukti atau konsekuensi
yang teramati oleh indera). Fakta bila dikumpulkan secara sistematis dengan
beberapa sistem serta dilakukan secara sekuensial maka fakta tersebut mampu
melahirkan sebuah ilmu. Sebagai kunci bahwa fakta tidak akan memiliki arti
apa-apa tanpa sebuah teori dan fakta secara empiris dapat melahirkan sebuah
teori baru.
Untuk memahami hubungan antara fakta-fakta yang sangat
banyak itu, kita perlu mengenali fakta-fakta itu secara sendiri-sendiri. Ini
berarti bahwa kita harus mengetahui ciri-cirinya dengan baik. Dengan begitu,
kita dapat mengenali hubungan di antara fakta-fakta tersebut dengan melakukan
penelitian. Selain itu, kita dapat menggolong-golongkan sejumlah fakta ke dalam
bagian-bagian dengan jumlah anggota yang sama banyaknya. Proses seperti itu
disebut pembagian, namun pembagian di sini memiliki taraf yang lebih tinggi dan
disebut klasifikasi.
Kesimpulannya : fakta sebagai unsur dasar dalam penalaran
karangan karena dalam membuat suatu karangan baik itu karangan ilmiah atau
karangan non ilmiah harus didasari oleh fakta, dan penulis harus mengerti serta
memahami fakta tersebut, sehingga dapat di kembangkan dan disusun menjadi
sebuah karangan.
Daftar
pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar